pendapat habib munzir terhadap Paham Salafy (Wahaby)

by Pecinta rasulullah on 12:03 AM, 14-Jun-12

Category: Artikel islami

adminII Paham Salafy (Wahaby) - 2007/11/26 02:02 From: putraseitalang Subject: kepada guru kita hab assalamualaikum wr wb kepada guru yang saya hormati habib munzir almusawa mohon diberi penjelasan dari apa yang saya dapat dari email yang dikirim dari teman saya yang berpaham salafy(wahaby)ini karena saya tidak mempunyai cukup ilmu Ulama adalah Sosok Penjaga dan Pembela Dien Allah Penulis: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari Manhaj, 13 Desember 2005, 12:15:37 Abu Ghalib berkata: “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah [1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya. كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ “Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya. Kata Abu Ghalib: “Ada apa denganmu hingga mengalir air matamu?” “Karena kasihan terhadap mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul Islam,” jawab Abu Umamah. Abu Ghalib berkata: Kami bertanya: “Apakah engkau mengatakan ‘mereka itu anjing-anjing neraka’ dengan pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?” “Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh betapa beraninya aku. Tapi perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua tiga kali,” jawab Abu Umamah. Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (5/253). Guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah setelah membawakan hadits ini, beliau berkata: “Hadits ini jayyid, Abu Ghalib adalah rawi yang hasanul hadits.” (Al Jami’ush Shahih, 1/201) Dalam riwayat At-Tirmidzi rahimahullah (Sunan At-Tirmidzi no. 4086), Abu Ghalib berkata: “Abu Umamah melihat kepala-kepala yang dipancangkan di atas tangga (masjid) Damaskus, ia pun berkata: كِلاَبُ النَّارِ، شَرَّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ “Anjing-anjing neraka. Mereka ini sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh.” Kemudian Abu Umamah membaca ayat: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ “Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram.” (Ali 'Imran: 106) Sampai akhir ayat. Abu Ghalib berkata kepada Abu Umamah: “Apakah engkau mendengar perkataan seperti itu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?” “Kalau aku tidak mendengarnya dari beliau, tidak hanya sekali, dua kali, atau tiga, empat kali –Abu Umamah sampai menyebut tujuh kali– niscaya aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian.” Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’us Shahih,1/201. Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Penjaga Agama Allah Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang menjadikan adanya ahlul ilmi pada setiap zaman fatrah [2] dari para rasul, yang mereka ini mengajak orang yang sesat kepada petunjuk dan bersabar atas gangguan yang mereka terima dari manusia. Mereka menghidupkan kitabullah yang telah ditinggalkan manusia dan menjadikan orang yang buta (akan kebenaran) dapat melihat dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berapa banyak korban yang dibunuh oleh Iblis telah mereka hidupkan dan berapa banyak orang yang sesat lagi tidak mengerti jalan telah mereka bimbing. Alangkah bagusnya apa yang mereka perbuat terhadap manusia, namun alangkah jeleknya apa yang diperbuat manusia terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang yang menolak penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap kitabullah, demikian pula keyakinan orang-orang yang batil dan takwil orang-orang jahil, di mana orang-orang sesat ini telah mengikat bendera bid’ah dan melepaskan tali kekang fitnah. Orang-orang yang sesat ini berbeda-beda dalam memahami Kitabullah dan menyelisihi Kitabullah, akan tetapi mereka bersepakat meninggalkan Kitabullah. Mereka ini berucap terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang samar/ rancu dan bermaksud menipu orang-orang yang bodoh dari kalangan manusia dengan apa yang mereka samarkan. Kepada Allah semata kita berlindung dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.” (Ar-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyyah, hal. 1) Berkaitan dengan ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, maka kita mengetahui bahwa ulama al-Jarh (Mencela) wat Ta’dil (Memuji) termasuk sisa ahlul ilmi yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tempatkan di umat ini untuk menjaga dan membela agamanya (Aimmatul Jarhi wat Ta’dil Hum Hummatud Din min Kaidil Mulhidin, wa Dhalalil Mubtadi’in wa Ifkil Kadzdzabin, Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali hafizhahullah, hal. 3) Dengan keberadaan ulama ini, terbongkarlah kedok dan borok para penyesat umat, sehingga tidak tersisa satu tempat persembunyian pun bagi mereka melainkan telah diketahui dan telah diporak-porandakan. Sehingga umat tidak lagi mudah ditipu oleh mereka bahkan mereka dapat tertangkap basah oleh umat, dilucuti, dan dibuka aib yang mereka miliki. Demikianlah gambaran ahlul ahwa (para pengekor hawa nafsu) dan ahlul bid‘ah yang telah dikritik pedas dan dibabat habis oleh ulama al-Jarh wat Ta’dil, sehingga tidak heran bila ahlul ahwa dan bid‘ah ini sangat antipati dan benci sampai ke ulu hati terhadap ulama al-Jarh wat Ta’dil yang ada di tengah umat ini. Berbagai tuduhan, ucapan kotor dan keji mereka lemparkan pada sang alim untuk menjatuhkan kehormatannya dan menjauhkan umat darinya. Namun pada akhirnya mereka harus gigit jari melihat hasil perjuangan mereka. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang memberikan penjagaan terhadap agama-Nya. Dan Dia terus melahirkan dan memunculkan di tengah-tengah umat ini ulama yang membela agama-Nya, Dia terus menampilkan dan memenangkan orang-orang yang mengawal agama-Nya, karena memang Dialah Subhanahu wa Ta'ala yang menghendaki agar Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong) ini tetap ada sampai saat berhembusnya angin sewangi misik yang tidak meninggalkan satu jiwa mukmin pun melainkan akan meninggal ketika menciumnya (hal ini terjadi menjelang datangnya hari kiamat [3]), sebagaimana disabdakan oleh Rasul yang mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam: لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ “Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan dzahir/ menang di atas al haq, tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka. Demikian keadaan mereka sampai datang perkara Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7311 dan Muslim no. 1920) Dalam riwayat Al-Bukhari (Shahih Al-Bukhari no. 71) disebutkan dengan lafadz: وَلَنْ تَزَالَ هذِهِ اْلأُمَّةُ قاَئِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُّرُهُمْ مَنْ خاَلَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ “Umat ini terus menerus akan menegakkan agama Allah [4], tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah.” Ath-Thaifah Al-Manshurah, termasuk di dalamnya ulama al-Jarh wat Ta’dil tentunya sebagai orang yang masuk paling pertama karena mereka orang yang terdepan di dalam ilmu dan penjagaan/ pembelaan terhadap agama ini. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah ahlul ilmi. Sehingga beliau membuat bab tersendiri dalam masalah ini dalam kitab Shahih-nya, dengan judul bab Qaulin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: “La Tazalu Thaifatun min Ummati Zhahirina ‘alal Haq wa Hum Ahlul Ilmi” (bab Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan zahir/ menang di atas al-haq” mereka adalah ahlul ilmi). Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Kalau mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa lagi mereka [5]”. Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah berkata: “Yang dimaksud Al-Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan mereka yang meyakini madzhab ahlul hadits.” (Syarah Shahih Muslim, 13/66-67, Fathul Bari 1/206, 13/306). Al-Hakim rahimahullah berkata: “Alangkah bagusnya penafsiran Al-Imam Ahmad bin Hambal terhadap kabar ini bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah yang selalu diberikan pertolongan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai hari kiamat adalah ashabul hadits (ahlul hadits). Karena siapa lagi manusia yang paling berhak untuk dimasukkan ke dalam thaifah ini terkecuali suatu kaum yang menempuh jalan orang-orang shalih dan mengikuti atsar salaf dari kalangan orang-orang terdahulu, mematahkan dan menghancurkan ahlul bid’ah serta orang-orang yang menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Ma’rifah Ulumil Hadits, hal. 2) Al-Hakim juga berkata memuji ahlul hadits: “Akal-akal mereka digenangi kelezatan As Sunnah, jantung-jantung mereka yang dipenuhi keridhaan terhadap ahwal (segala keadaan) mereka makmurkan, mempelajari sunnah-sunnah adalah kebahagiaan mereka, majelis ilmu adalah kegembiraan mereka. Ahlus sunnah seluruhnya adalah saudara-saudara mereka sementara ahlul ilhad (orang yang menyimpang) dan ahlul bid`ah seluruhnya adalah musuh mereka.” (Ma’rifah Ulumil Hadits, hal. 3) Guru kami Allamatul Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata: “Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Ahmad, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka di atas Al-Haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.” (Al-Jami’us Shahih, 1/11) Mereka pula yang dikatakan Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, ketika ditanyakan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam: مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: هُمُ الْجَماَعَةُ “Siapa mereka wahai Rasulullah?” “Mereka adalah al-jamaah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4/102, Abu Dawud no. 3981, Ibnu Abi ‘Ashim no. 63, dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 49) Sejak terjadinya fitnah dan bercabangnya kelompok hawa nafsu di tengah umat hingga mereka mencapai jumlah yang disebutkan [6], thaifah ini terus menerus menegakkan perkara Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka menyeru kepada al haq, menyebarkan dan menjaga ilmu-ilmu nubuwwah, membelanya dan menolak tipu daya orang-orang yang melakukan tipu daya, menolak kepercayaan orang-orang yang batil dan tahrif orang-orang bodoh. Tidak menggoyahkan mereka sama sekali gangguan, tipu daya orang-orang yang membuat makar, dan rencana jahat orang-orang yang berkuasa. Kesempitan, gangguan dan ujian yang mereka terima tidak akan menambah penderitaan bagi mereka terkecuali membuat mereka semakin kokoh di atas al haq dan akan membungkam kebatilan, sebagaimana ini terjadi pada masa Al-Imam Ahmad, Abdul Ghani Al-Maqdisi dan pada masa Ibnu Taimiyyah. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hal. 18) Sikap tegas terhadap ahlul bid‘ah ini merupakan sikap yang diwarisi dari As-Salafush Shalih. Dan As-Salafush Shalih menganggap sikap keras terhadap ahlul ahwa dan bid‘ah merupakan suatu kelebihan/ keutamaan dan merupakan sikap terpuji, di mana seseorang akan dipuji karenanya. Berapa banyak para imam Ahlus Sunnah, ketika disebutkan biografinya, ia dipuji karena sikap kerasnya terhadap ahlul ahwa dan bid’ah dan betapa kokohnya dia dalam memegang As Sunnah. Tidak ada yang mendorong mereka untuk bersikap yang demikian kecuali karena kecemburuan terhadap agama Allah ini dan dalam rangkaian nasehat kepada Allah, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta orang awamnya. Sebagaimana Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tentang Al-Imam Ahmad rahimahullah: “Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, karena sangat kuatnya beliau memegangi As Sunnah dan melarang/ mencegah dari kebid’ahan, beliau tidak segan membicarakan tentang (kejelekan) sekelompok orang-orang yang baik, apabila tampak di hadapannya bahwa mereka menyelisihi As Sunnah. Ucapan beliau yang demikian itu disampaikan kepada mereka tentunya dalam rangka nasehat untuk agama Allah ini.” (Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa‘, hal. 42) Ahlul Hadits adalah Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Ulama al-Jarh wat Ta’dil adalah ulama Ahlul Hadits yang mengilmui dan memahami hadits, mengagungkan, dan menjaganya. Mereka adalah orang yang mengikuti para shahabat dan tabi’in dalam berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mereka kedepankan keduanya di atas setiap ucapan dan petunjuk, sama saja apakah hal itu dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak ataupun dalam masalah politik dan kemasyarakatan. Mereka sangat kokoh di dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diwahyukan-Nya kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menegakkan dakwah dengan segala kesungguhan, kejujuran dan ketegaran. Merekalah pembawa ilmu nubuwwah. Dengan ilmu tersebut, mereka sangat menentang tahrif orang-orang yang ghuluw, kepercayaan orang-orang yang batil dan takwil orang-orang jahil. Merekalah orang-orang yang selalu berdiri mengintai setiap kelompok/ golongan yang menentang manhaj islami seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rawafidh, Murji`ah, Qadariyyah dan setiap yang menyimpang dari manhaj Allah dan mengikuti hawa nafsunya pada setiap zaman dan tempat. Celaan orang-orang yang mencerca sama sekali tidak menyurutkan langkah mereka dalam membela agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (Aimmatul Jarhi wat Ta’dil, hal. 4) Merekalah yang meletakkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ini di hadapan mata mereka: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلاَ تَفَرَّقُوْا “Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103) Dan firman-Nya: فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخاَلِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ “Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perkara/ perintah Rasulullah untuk ditimpakan kepada mereka fitnah atau ditimpakan pada mereka azab yang pedih.” (An-Nur: 63) Sehingga mereka adalah orang yang paling jauh dari menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan paling jauh dari fitnah. Merekalah yang menjadikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai dustur mereka: فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْماَ شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْماً “Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam pertikaian yang terjadi diantara mereka, kemudian mereka tidak dapatkan di dalam jiwa mereka rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan setunduk-tunduknya.” (An-Nisa`: 65) Mereka memuliakan nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dengan sebenar-benar pemuliaan, mengagungkannya dengan sebesar-besar pengagungan dan mengedepankannya di atas ucapan manusia seluruhnya. Mereka berhukum kepada nash-nash tersebut dalam segala sesuatu dengan rasa ridha yang sempurna dan dada yang lapang, tanpa rasa sempit dan berat. Mereka tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya dengan ketundukan yang sempurna dalam aqidah mereka, ibadah dan muamalah mereka. Kepada merekalah pantas ditujukan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: إِنَّماَ كاَنَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوْا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ “Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara diantara mereka, mereka pun menyatakan ‘kami mendengar dan kami taat’ , mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51) [Aimmatul Jarhi wat Ta’dil, hal. 5] Diantara nama ulama ahlul hadits yang bisa kita sebutkan di sini, diantaranya: - Semua shahabat Nabi, dengan pimpinan mereka Al-Khulafa`ur Rasyidin - Tokoh tabi’in (murid para shahabat): Sa’id ibnul Musayyab, ‘Urwah bin Az-Zubair, Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, Muhammad ibnul Hanafiyyah, Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud, Salim bin Abdillah bin ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, ‘Umar bin Abdil Aziz, dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri. - Atba‘ut tabi’in (murid para tabi’in), paling terdepan dari mereka adalah Malik, Al-Auza’i, Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Isma’il bin ‘Ulayyah dan Al-Laits bin Sa’ad. - Murid-murid atba‘ut tabi’in, paling utama adalah Abdullah ibnul Mubarak, Waki’ ibnul Jarrah, Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, ‘Affan bin Muslim. - Mereka yang berguru kepada murid-murid atba‘ut tabi’in, yang terdepan adalah Al-Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in dan ‘Ali ibnul Madini. - Murid-murid mereka yang masuk dalam kelompok di atas, diantaranya Al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai. - Generasi berikutnya yang berjalan seperti jalan mereka, diantaranya Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Abdil Bar An-Namri, Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyyah, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir [7] dan para imam setelah mereka seperti Ash-Shan’ani, Asy-Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab serta kalangan imam dari anak-anak dan cucunya. Mereka memiliki banyak sekali karya tulis –dengan jumlah yang tak terhitung– yang berisi bantahan terhadap ahlul bid’ah wa ahwa dan kitab-kitab al-Jarh wat Ta’dil serta kitab al-jarh secara khusus yang penuh dengan keterangan tentang keadaan ahlul bid’ah seperti kitab Ar-Rad ‘alal Jahmiyyah karya Al-Imam Ahmad, Ar-Rad ‘alal Jahmiyyah dan Ar-Rad ‘ala Bisyr Al-Marisi karya ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, kitab-kitab Al-Imam Ahmad dalam masalah rijal, kitab-kitab Ibnu Ma’in, kitab-kitab Al-Bukhari, Al-Al-jarh wat ta'dil karya Ibnu Abi Hatim, kitab-kitab An-Nasa`i dan Ad-Daraquthni, Al-Kamil karya Ibnu ‘Adi, kitab Al-Majruhin karya Ibnu Hibban, Ma’rifatur Rijal karya Jauzajani, Muqaddimah Al-Madkhal karya Al-Hakim, Muqaddimah Al-Mustakhraj karya Abu Nu’aim dan selainnya dari kitab-kitab rijal sebagaimana mereka memiliki banyak karya tulis ilmiah dalam perkara aqidah/ manhaj seperti kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri, Al-Iman karya Ibnu Mandah, At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, Syarah Ushulus Sunnah karya Al-Lalikai, serta kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dan lain-lainnya, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya di sini. Kritikan Ulama Al-Jarh wa At-Ta’dil Penjagaan terhadap Agama Allah Apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat ta'dil berupa kritikan dan bantahan kepada ahlul bid’ah dan ahwa bukanlah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih. Tidak pula menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, sebagaimana hal ini banyak disebarkan dan diserukan oleh du’atul makirin wal ahdzabul hizbiyyin (para penyeru dan pembuat makar serta para da’i hizbiyyun) yang sangat khawatir dan takut dengan kritikan karena akan mematikan mereka dan membinasakan langkah dan keinginan mereka yang busuk. Akan tetapi apa yang mereka serukan sama sekali tidak demikian, wallahi. Bahkan jauh sebelum ulama al-jarh wat ta’dil, hal ini telah dilakukan oleh sebaik-baik manusia setelah para nabi dan rasul, yaitu para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ash-shadiqinash shalihin, dan diantara mereka adalah Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dan riwayat di atas. Ketika Abu Umamah melihat kepala orang-orang yang terbunuh dari kelompok ahlul bid’ah yang bernama Khawarij yang dipancangkan di atas tangga masjid Damaskus, ia pun mengatakan: “Anjing-anjing neraka!” (Tuhfatul Ahwadzi, 8/279). Ketika melemparkan gelaran jelek kepada pemilik kepala-kepala yang telah terpenggal tersebut, beliau tidak mencukupkan sekali, bahkan beliau mengulangnya sampai tiga kali. Kemudian, apabila ini adalah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih dan menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, apakah boleh dan diperkenankan bagi kita untuk mengatakan shahabat ini mulutnya kotor, jahat hati, maksud, dan lisannya? Na’udzubillah min dzalik, semoga Allah menjaga hati, lisan dan perbuatan kita dari mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam! Apa yang dilakukan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam murabbina wa mu’allimuna. Beliaulah yang menggelari Khawarij dengan anjing-anjing neraka, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Umamah: “Perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua, tiga kali!” Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan sampai tujuh kali. لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كاَنَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang-orang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21) Bila demikian adanya, berarti apa yang dilakukan oleh ulama al-Jarh wat Ta’dil ini telah dicontohkan oleh sebaik-baik hamba Allah yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menjarh, mengkritik, dan mentahdzir orang yang pantas mendapatkannya. Demikian pula halnya dengan anak paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, orang yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kefakihan di dalam agama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ahli di dalam menafsirkan Al Qur`an, imam para mufassirin, Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma ketika menjarh kelompok bid’ah yang bernama Qadariyyah. ‘Atha rahimahullah berkata: “Aku mendatangi Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma yang sedang berada di sumur Zam-zam dalam keadaan bagian bawah pakaiannya basah terkena air. “Telah muncul orang-orang yang membicarakan (yakni mengingkari -ed) takdir (Qadariyah, pen.),” kataku kepada Ibnu Abbas. “Apakah mereka benar telah melakukannya?” tanya Ibnu ‘Abbas. “Iya,” jawabku. “Demi Allah, tidaklah turun ayat: ذُوْقُوْا مَسَّ سَقَرَ. إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناَهُ بِقَدَرٍ “Rasakanlah oleh kalian azab neraka Saqar. Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ketetapan takdir.” (Al-Qamar: 48-49) melainkan ditujukan kepada mereka. Mereka itu adalah sejelek-jelek umat ini, jangan kalian jenguk orang yang sakit dari kalangan mereka, jangan kalian shalati orang yang mati dari kalangan mereka. Bila aku melihat salah seorang dari mereka, niscaya aku akan mencungkil kedua matanya dengan dua jariku ini.” (Syarhus Sunnah, Al-Lalikai 4/712, As-Sunanul Kubra, Al-Baihaqi 10/205, sebagaimana dinukil dalam Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa`, hal. 23) Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah berkata: “Membantah ahlul bid’ah, men-jarh mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia dari mereka merupakan perkara pokok dalam Islam, karena hal ini termasuk bab amar ma’ruf nahi mungkar yang paling penting dan juga termasuk bab nasihat yang terpenting kepada Islam dan muslimin. Orang yang pertama kali men-jarh dan men-tahdzir mereka yang menyimpang adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana beliau mentahdzir Khawarij dalam beberapa hadits dan menyifati mereka sebagai sejelek-sejelek makhluk, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mencela Dzul Khuwaishirah (nenek moyang Khawarij) dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang perkara ini banyak sekali.” (Aimmatul Hadits wa Man Sara ‘ala Nahjihim Hum A’lamun Nasi bi Ahlil Ahwa wal Bida’ wa Masyru’iyyatul Jarh wat Ta’dil Minal Akfa’ Lam Tanqathi’, hal. 2) Lebih dari itu, mencela dan memberi gelaran buruk kepada orang yang menyimpang dari kebenaran telah pula dinyatakan oleh Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Suci keberadaan-Nya dari segala makhluk-Nya, seperti dalam ayat-ayat berikut ini: وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناَهُ آياَتِناَ فَانْسَلَخَ مِنْهاَ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطاَنُ فَكاَنَ مِنَ الْغاَوِيْنَ. وَلَوْ شِئْناَ لَرَفَعْناَهُ بِهاَ وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِناَ فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh syaitan sampai dia tergoda. Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka permisalan dirinya seperti anjing, bila engkau menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan bila engkau membiarkannya, anjing itu tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 175-176) وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهاَ أُولَئِكَ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغاَفِلُوْنَ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka memiliki mata namun tidak dipergunakannya untuk melihat. Dan mereka punya telinga tetapi tidak diperguna-kannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih bodoh lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179) أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ أَوْ يَعْقِلُوْنَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيْلاً “Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.” (Al-Furqan: 44) Sehingga kita katakan di sini, orang-orang yang mengingkari perkara ini adalah orang yang tidak faham sama sekali apa yang dia baca di dalam Al Qur‘an yang dia baca setiap harinya dan di dalam hadits-hadits yang shahih atau memang dia tidak pernah membacanya sehingga dengan kejahilannya menjadikannya jahil murakkab? Wallahul musta’an. Para Imam al-Jarh wat Ta'dil tidak hanya memberikan jarh kepada ahlul bid’ah wa ahwa` namun mereka juga menjaga agama ini dengan menjaga hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari pemalsuan dan kedustaan, membicarakan perawi-perawi hadits dan menjelaskan keadaan mereka, sehingga bila perawi itu lemah terlebih seorang pendusta, maka mereka membicarakannya, mengkritiknya dan menolak haditsnya. Namun apabila dipelajari dan diteliti, para perawi keadaanya tidak demikian, bahkan merupakan rawi yang pantas diterima periwayatannya, maka diterima haditsnya dan periwayatannya. Diantara kritikan mereka: 1. Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata tentang seorang perawi hadits yang bernama Talid bin Sulaiman Al-Muharibi: “Dia tidak teranggap, dia seorang pendusta yang mencerca ‘Utsman radhiallahu 'anhu. Dan setiap orang yang mencela ‘Utsman atau Thalhah atau salah seorang dari shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dia dajjal, tidak ditulis haditsnya, dan dia akan memperoleh laknat Allah, para malaikat dan manusia.” (At-Tarikh, 2670) Al-Hakim rahimahullah berkata: “Madzhabnya jelek, mungkarul hadits.” (Al-Madkhal, 1/174) 2. Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata: “Negeri Khurasan mengeluarkan tiga orang yang tidak ada tandingannya dalam kebid’ahan dan kedustaan yaitu Jahm bin Shafwan, ‘Umar bin Shabh, dan Muqatil bin Sulaiman.” 3. Ahmad ibnu Hanbal rahimahullah berkata: “Habib bin Abi Hilal matruk (ditinggalkan).” (Bahrud Dam hal. 105). Demikian juga Al-Imam Ahmad berkata tentang Al-Hasan ibnu Dzakwan: “Hadits-haditsnya batil.” (Bahrud Dam hal. 114) 4. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Dawud ibnu Al-Muhabbir mungkarul hadits, keberadaannya seakan-akan tidak teranggap/ ternilai.” (Adh-Dhu’afa` Ash-Shagir hal. 18. Al-Hafidz rahimahullah berkata tentangnya: “Matruk, dan kebanyakan kitabul ‘aql yang dia tulis hadits-haditsnya palsu.” (At-Taqrib hal.140) 5. Al-Imam An-Nasai rahimahullah mengatakan tentang Asy’ats ibnu Sa’id As-Samman: “Tidak punya nilai.” (Adh-Dhua’fa` wal Matrukin hal.56) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. Footnote : 1. Satu kelompok dari Khawarij yang dinisbatkan kepada Nafi’ bin Al-Azraq, salah seorang tokoh Khawarij. 2. Zaman terputusnya wahyu dan tidak adanya rasul yang diutus di tengah umat 3. Kiamat tidak akan ditimpakan kecuali pada sejelek-jelek makhluk. Adapun orang yang memiliki iman semuanya telah meninggal ketika mencium angin sewangi misik yang berhembus menjelang datangnya hari kiamat (Fathul Bari, 1/206). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْياَءُ “Termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang hari kiamat menemui mereka dalam keadaan mereka masih hidup.” (HR. Al-Bukhari no. 7067) Dalam riwayat Muslim (no. 2949) disebutkan dengan lafadz: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ عَلىَ شِرَارِ النَّاسِ “Tidak akan datang hari kiamat kecuali (menimpa) atas sejelek-sejelek manusia.” 4. Sebagian umat ini akan tetap di atas al-haq selama-lamanya (Fathul Bari, 1/206) 5. Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata: “Imam-imam Islam seperti Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul Madini, Ahmad bin Hambal, Al-Bukhari dan para imam yang lain diantaranya Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Rajab telah menafsirkan Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah ini adalah ahlul hadits dan orang yang bermadzhab ahlul hadits.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa`if, hal. 18) 6. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: تَفَرَّقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً “Yahudi akan terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 50) 7. Dan kami tambahkan ulama ahlul hadits dan para imam al-jarh wat ta’dil pada zaman ini baik itu yang masih hidup –mudah-mudahan Allah mengokohkan mereka dan diberikan umur yang panjang di dalam pembelaan agama-Nya– ataupun yang telah Allah panggil disisi-Nya, semoga Allah merahmati mereka semuanya dengan rahmat-Nya yang lapang– sesuai yang kami ketahui dan penyebutan kami disini bukan sebagai pembatasan, diantaranya: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdurahman Al-Mu’allimi Al-Yamani, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, Al-’Allamatusy Syaikh Abdullah Ibnu Humaid, Asy-Syaikh Al-Muhaddits wal Mufassir Muhammad Amin Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Al-’Allamatu Abdurrahman As-Sa’di, Syaikhul Islam Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Imamul Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Al-Mujahid As-Salafi Hamud Tuwaijiri, ‘Allamatud Dunya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-’Allamatusy Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Guru kami Al-Muhaddits Imam Ahlis Sunnah fil Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Al-’Allamah Shahibul Manhaj Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Al-Muhadditsul Faqih Ahmad bin Yahya An-Najmi, Al-’Allamah Asy-Syaikh Al-Mujahid Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, Imam Al-Jarh wat Ta'dil Syaikhul Muhaddits Rabi’ Ibnu Hadi Al-Madkhali, Al-’Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-’Abbad, Mufti Mamlakah As-Su’udiyah ‘Allamatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alusy Syaikh, Al-Ma’ali Al-’Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, Shahibul Manhajis salim Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri, dan ulama ahlil hadits lainnya. (Dikutip dari artikel berjudul Ulama Al Jarh wa At Ta'dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah, tulisan Al Ustadz Abu Ishaq Muslim, url sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=267) | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya munzir Rerazzaham Salafy (Wahaby) - 2007/11/26 16:59 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Kebahagiaan dan Kelembutan Nya semoga selalu menyelimuti hari hari anda, Saudaraku yg kumuliakan, 1. masalah kilabunnar ini tentunya merupakan Tahdzir dari Rasul saw, agar kita menghindari sejauh jauhnya untuk terjerumus seperti mereka. bukan diajari mencaci anjing neraka pada semua orang, dan dijelaskan pada syarh Ibn Majah bahwa yg ditujukan adalah kaum khawarij, mereka yg merusak tauhid, yah.. mirip mirip dg wahaby. 2. mengenai ulama Jarh watta'dil maka ia salah tafsir, Jarh disini bukan pencaci, tapi melihat apakah orang itu 'adil (kuat riwayat) atau majruh (lemah riwayat), disebut majruh karena ia mungkin pernah berdusta, atau pernah kena penyakit lupa, maka ia majruh (terluka=maksudnya ada aib pada riwayatnya). bukan pencaci, lucu sekali artikel wahabi ini, marah marah menuduh ahlussunnah waljamaah adalah ahlul ahwa, dan mereka ulama jurh watta';dil, wahai kalian.., ulama jurh watta;dil itu bukan pencaci berhati busuk macam kalian, Imam Bukhari rahimahulllah yg menjadi raja seluruh Muhaddits berkata : "aku tak mau menyebut aib aib orang dalam riwayatku, karena aku tak mau dikumpulkan oleh Allah dalam kelompok ahlulghibah" (Siyar fii a'lamunnubala dan Tadzkiratul Huffadh). betul, kelompok yg benar adalah pemilik ilmu, ahlussanad, mereka yg bukan menukil nukil dari buku, tapi rijalussanad, mereka telah sampai pada derajat Al Hafidh, yaitu halal lebih dari 100 ribu hadits dg sanad dan hukum matannya, sedangkan tak satupun wahabi yg sampai ke derajat AL Hafidh, atau derajat Hujjatul Islam yaitu telah hafal 300 ribu hadits dg sanad dan hukum matan, seperti Imam Ghazali, Imam Nwawi, Imam Ibn Hajar,. Imam Bukhari dll. cuma orang wahabi saja mendustakan Hujjatul Islam Al Ghazali, mendustakan karena bodohnya mereka terhadapa sejarah dan ilmu hadits. lihatlah ucapan Imam Malik rahimahullah atas orang semacam wahabi : Berkata Almuhaddits Hujjatul Islam Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan masalah ini. GustiFauzan Re:nuzulul qur'an - 2009/09/08 13:52 Kesejukan dan Kekuatan semoga selalu diberikan Allah SWT kepada Habibana.. Qobiltu Ijazah. Ana terima ijazahnya Bib.. Insya Allah akan ana laksanakan,karena semua ini teman2 ana yang meminta,mereka sangat mencintai Majelis Rasulullah SAW,mereka selalu meminta downloadkan majlis mingguan di almunawwar,dan tiap bulan ada saja teman ana yg nitip minta belikan jaket MR kpd Ana,dan insya Allah ana akan selalu melaporkan perkembangan dakwah ini kepada Habibana. dan Habibana ana mendapat pesan dari seorang wahabi,dia membantah tentang buku Habibana itu,karena ketika dia mempertanyakan suatu dalil,ana kirim Buku yang ditulis Habibana Bab Bid'ah kemudian dia membalas.. "BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG BID'AH DAN JAWABANNYA Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya : Bagaimanakah pendapat anda tentang perkataan Umar bin Khatab Radhiyallahu 'Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama'ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata : "inilah sebaik-baik bid'ah .... dst". Jawabannya. Pertama. Bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta'ala berfirman : "Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih". [An-Nuur : 63]. Imam Ahmad bin Hambal berkata : "Tahukah anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah ?. Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya akan binasa". Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata : "Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar". Kedua. Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta'ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaupun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dengan firman Allah, yang artinya : " ... sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak ..." [An-Nisaa : 20] bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasan mahar. Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihahnya, tetapi dimaksudkan dapat menjelaskan bahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tidak melanggarnya. Oleh karena itu, tak patut bila Umar Radhiyallahu 'anhu menentang sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata tentang suatu bid'ah : "Inilah sebaik-baik bid'ah", padahal bid'ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Setiap bid'ah adalah kesesatan". Akan tetapi bid'ah yang dikatakan oleh Umar, harus ditempatkan sebagai bid'ah yang tidak termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Maksudnya : adalah mengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan shalat sunat pada malam bulan Ramadhan dengan satu imam, di mana sebelumnya mereka melakukannya sendiri-sendiri. Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannnya pada malam keempat, dan bersabda : "Artinya : Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedanghkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya". [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]. Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjamaah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun disebut bid'ah oleh Umar Radhiyallahu anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama'ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu'minin Umar Radhiyallahu 'anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid'ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid'ah, karena pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan penjelasan ini, tidak ada suatu alasan apapun bagi ahli bid'ah untuk menyatakan perbuatan bid'ah mereka sebagai bid'ah hasanah. Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya : Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti; adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Setiap bid'ah adalah kesesatan ?". Jawabnya : Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid'ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah : "Sarana dihukumi menurut tujuannya". Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan ; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan ; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat. Firman Allah Ta'ala. "Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan". [Al-An'aam : 108]. Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang yang musyrik adalah perbuatan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya, mejelek-jelekan Rabbul 'Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang. Ayat ini sengaja kami kutip, karena merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila bertujuan untuk pengajaran ilmu syar'i, maka pembangunannya adalah diperintahkan. Jika ada pula yang mempertanyakan : Bagaimana jawaban anda terhadap sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..". "Sanna" di sini artinya : membuat atau mengadakan. Jawabnya : Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula : "Setiap bid'ah adalah kesesatan". yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala atau sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan : "man sanna fil islaam", yang artinya : "Barangsiapa berbuat dalam Islam", sedangkan bid'ah tidak termasuk dalam Islam ; kemudian menyatkan : "sunnah hasanah", berarti : "Sunnah yang baik", sedangkan bid'ah bukan yang baik. Tentu berbeda antara berbuat sunnah dan mengerjakan bid'ah. Jawaban lainnya, bahwa kata-kata "man sanna" bisa diartikan pula : "Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah", yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata "sanna" tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan. Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda. "Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..". Dari sini, dapat dipahami bahwa arti "sanna" ialah : melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau : "Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan", yaitu : "Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik", bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau : "Kullu bid'atin dhalaalah". [Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar] ETIAP BID'AH ADALAH KESESATAN Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin Apabila masalah tadi sudah jelas dan menjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapapun yang berbuat bid'ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid'ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta'ala, yang artinya : " Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu ....." . Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya. Anehnya, ada orang yang melakukan bid'ah berkenan dengan dzat, asma' dan sifat Allah Azza wa Jalla, kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah, dan untuk menuruti firman Allah Ta'ala. "Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah". [Al-Baqarah : 22] Aneh, bahwa orang yang melakukan bid'ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenan dengan dzat-Nya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang menuruti firman-Nya : "Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah", dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya. Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid'ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid'ah mereka. Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya". Padahal dengan bid'ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta'ala telah berfirman. "Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [Al-Hujuraat : 1] Pembaca Yang Budiman. Disini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang anda berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawab yang sesuai dengan tuntunan agama anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan). Apa pendapat anda terhadap mereka yang melakukan bid'ah dalam agama Allah, baik yang berkenan dengan dzat, sifat dan asma' Allah Subhanahu wa Ta'ala atau yang berkenan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?". Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung jaripun dari syari'at Allah, yang berkata : "Kami beriman kepada syari'at Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan ; kami menolak apa yang tidak ada dalam syari'at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?". Siapakah, menurut anda, yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya .? Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata : "Kami mengimani dan mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa yang diperintahkan ; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak patut kami mengada-adakan dalam syari'at Allah atau melakukan bid'ah dalam agama Allah". Tak syak lagi bahwa mereka inilah orang-orang yang tahu diri dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan golongan pertama, yang melakukan bid'ah dalam agama Allah, dalam hal akidah, ucapan, atau perbuatan. Padahal, anehnya, mereka mengerti sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. "Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam neraka". Sabda beliau : "setiap bid'ah " bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka mengetahui hal itu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyampaikan maklumat umum ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya, Maka ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Kullu bid'atin dhalalah", Beliau menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulus terhadap umatnya. Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu : diucapkan dengan penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya. Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid'ah dapat kita bagi menjadi tiga bagian, atau lima bagian ? Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa ada bid'ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak lepas dari dua hal. Pertama : kemungkinan tidak termasuk bid'ah tapi dianggapnya sebagai bid'ah. Kedua : kemungkinan termasuk bid'ah, yang tentu saja sayyi'ah (buruk), tetapi dia tidak mengetahui keburukannya. Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid'ah hasanah, maka Jawabannya adalah demikian tadi. Dengan demikian, tak ada jalan lagi bagi ahli bid'ah untuk menjadikan sesuatu bid'ah mereka sebagai bid'ah hasanah, karena kita telah mempunyai senjata ampuh dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu : "Artinya : Setiap bid'ah adalah kesesatan" Senjata itu bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dibuat sedemikian sempurna. Maka barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun dengan bid'ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyatakan : "Setiap bid'ah adalah kesesatan". [Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar] PEMBAGIAN BID’AH.[1] [1]. Bid’ah Haqiqiyah. Yakni bid’ah yang tidak memiliki indikasi dari syar’i baik dari Kitabullah, dari Sunnah dan Ijma’. Dan juga tidak ada dalil yang digunakan oleh para ulama baik secara global maupun rinci. Oleh sebab itu, disebut sebagai bid’ah karena ia merupakan hal yang dibuat-buat dalam perkara agama tanpa contoh sebelumnya[2]. Di antara contohnya adalah bid’ahnya perkataan Jahmiyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, bid’ahnya Qadariyah, bid’ahnya Murji’ah dan lainnya yang mereka mengatakan apa-apa yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Contoh lain adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan hidup kependetaan (seperti pendeta) dan mengadakan perayaan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Isra’ Mi’raj dan lainnya. [2]. Bid’ah Idhafiyah. Adapun bid’ah Idhafiyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi. Pertama, terdapat hubungannya dengan dalil. Maka dari sisi ini dia bukan bid’ah. Kedua, tidak ada hubungannya sama-sekali dengan dalil melainkan seperti apa yang terdapat dalam bid’ah haqiqiyah. Artinya ditinjau dari satu sisi ia adalah Sunnah karena bersandar kepada Sunnah, namun ditinjau dari sisi lain ia adalah bid’ah karena hanya berlandaskan syubhat bukan dalil. Adapun perbedaan atara keduanya dari sisi makna adalah bahwa dari sisi asalnya terdapat dalil padanya. Tetapi jika dilihat dari sisi cara, sifat, kondisi pelaksanaannya atau perinciannya, tidak ada dalil sama sekali, padahal kala itu ia membutuhkan dalil. Bid’ah semacam itu kebanyakan terjadi dalam ibadah dan bukan kebiasaan semata. Atas dasar ini, maka bid’ah Haqiqi lebih besar dosanya karena dilakukan langsung oleh pelakunya tanpa perantara, sebagai pelang-garan murni dan keluar dari syari’at sangat jelas, seperti ucapan kaum Qadariyah yang menyatakan baik dan buruk menurut akal, mengingkari hadits ahad sebagai hujjah[3], mengingkari adanya Ijma’, mengingkari haramnya khamer, mengatakan bahwa para Imam adalah ma’shum[4] (terpelihara dari dosa)... dan hal-hal lain yang seperti itu[5]. Dikatakan bid’ah Idhofiyah artinya bahwa bid’ah bila ditinjau dari satu sisi disyari’atkan tapi dari sisi lain ia hanya pendapat belaka. Sebab dari sisi orang yang membuat bid’ah itu dalam sebagian kondisinya masuk dalam kategori pendapat pribadi dan tidak di-dukung oleh dalil-dalil dari setiap sisi[6]. HUKUM BID’AH DALAM AGAMA ISLAM. Sesungguhnya agama Islam sudah sempurna dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Suabhnahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maaidah: 3] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semua risalah, tidak ada satupun yang ditinggalkan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menunaikan amanah dan menasehati umatnya. Kewajiban seluruh umat mengikuti petunjuk Nabi Muhammad 'Alaihi Shallatu wa sallam, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Wajib bagi seluruh ummat untuk mengikuti beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak berbuat bid’ah serta tidak mengadakan perkara-perkara yang baru karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat. Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam "Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[7] Demikian juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam "Artinya :Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”[8] Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri. Ada bid’ah yang menyebabkan kekufuran (Bid’ah Kufriyah), seperti berthawaf keliling kuburan untuk mendekatkan diri kepada para penghuninya, mempersembahkan sembelihan dan nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada mereka, meminta keselamatan kepada mereka, demikian juga pendapat kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah. Ada juga bid’ah yang menjadi sarana kemusyrikan, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, shalat dan berdoa di atas kuburan dan mengkhususkan ibadah di sisi kubur. Ada juga perbuatan bid’ah yang bernilai kemaksiyatan, seperti bid’ah membujang -yakni menghindari pernikahan- puasa sambil berdiri di terik panas matahari, mengebiri kemaluan dengan niat menahan syahwat dan lain-lain[9] Ahlus Sunnah telah sepakat tentang wajibnya mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, yaitu tiga generasi yang terbaik (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in) yang disaksikan oleh Nabi j bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia. Mereka juga sepakat tentang keharamannya bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kebinasaan, tidak ada bid’ah yang hasanah. Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma berkata: "Artinya : Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandang baik.” [10] Imam Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 61 H)[11] berkata: "Artinya : Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin dia untuk bertobat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.” [12] Imam al-Barbahary Rahimahullah berkata: “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”[13] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M] _________ Foote Note [1]. Lihat al-I’tisham (I/367), dan seterusnya. [2]. Ibid. [3]. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan orang-orang yang serupa dengannya. Lihat kitab ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hal. 148). [4]. Seperti yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyah. [5]. Al-I’tisham (I/221). [6]. Ibid. [7]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44). Hasan Shahih, dari Shahabat ‘Irbadh bin Saariyah Radhiyallahu 'anhu. [8]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha. [9]. Lihat Kitabut Tauhid (hal. 82 ) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan Nuurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah (hal. 76-77). [10]. Riwayat al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbary fil Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushulil Bid’ah (hal. 92). [11]. Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri. Abu ‘Abdillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah, faqih, ahli ibadah dan Imamul hujjah. Beliau meninggal pada tahun 61 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau di dalam kitab Taqriibut Tahdziib (I/371). [12]. Riwayat al-Lalikaiy dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no. 238. [13]. Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahary (no. 7), tahqiq Khalid bin Qasim ar-Radady, cet. II-Daarus Salaf, th. 1418 H. " itu bantahan mereka Bib,ana bingung mau jawab,mereka ini sangat keras. Mohon maaf dan ampun yang sebesar2nya.. | | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya munzir Re:nuzulul qur'an - 2009/09/09 10:17 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur'an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, Keluhuran Badr Alkubra, dan Ijabah pada hari hari shiyam dan qiyam semoga selalu menaungi hari hari anda, Saudaraku yg kumuliakan, sebenarnya jika ia mendalami ucapan para Hujjatul Islam dan para Imam mengenai Bid'ah, ia akan mengenal kebenaran, karena utsaimin ini tidak sampai sebutir debu para Hujjatul Islam dan para Imam, pakar hadits mempunyai syarat untuk menghukumi hadits, ada gelar Alhafidh, yaitu yg hafal lebih dari 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, ada gelar Hujjatul Islam yaitu yg hafal lebih dari 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Imam Nawawi adalah Hujjatul Islam, Imam Syafii jauh diatasnya, dan banyak lagi para Hujjatul Islam dan Imam yg menjelaskan tentang makna kalimat bid;ah. namun ditentang oleh wahabi dan kelompoknya yg mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya. hafal hadits berikut sanad dan matannya adalah hafal haditsnya, dan nama nama periwayatnya sampai ke Rasul saw berikut riwayat hidup mereka, guru mereka, akhlak mereka, kedudukan mereka yg ditetapkan para Muhadditsin, dan lainnya. namun wahabi cuma menukil dari buku sisa sisa yg masih ada saat ini, buku buku hadits yg ada saat ini hanya mencapai sekitar 80 ribu hadits, dan tak ada kitab yg menjelaskan semua periwayat berikut sejarahnya kecuali sebagian kecil hadit saja,. maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab, namun saya perjelas masalah tarawih dan bid;ah sbgbr : TAMBAHAN DALAM HAL BID’AH HASANAH mengenai ucapan Al Hafidh Al Imam Assyaukaniy, beliau tidak melarang hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran logika dan sandaran Naqli nya, m

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images